Selasa, 24 Oktober 2017
Home / Artikel / Bagaimana Guru Fokus Mendidik?

Bagaimana Guru Fokus Mendidik?

Kualitas pendidikan di negeri kita secara umum masih jauh dari yang diharapkan dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negera tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Australia.

Beberapa hal yang mungkin menyebabkan kemerosotan mutu pendidikan di atas adalah didasarkan pada beberapa realitas bahwa: a. Kebanyakan guru yang masih mendapatkan penghasilan di bawah UMR (Upah Minimum Regional) Harian Kompas Rabu, 18 Desember 2007. b. Guru banyak yang masih “nyambi” dalam mencari nafkah. Misalnya menjadi pedagang kecil, tukang becak, tukang ojek, tutor les private, dan menjadi dosen di Universitas Terbuka (UT). c. Guru belum sepenuhnya dapat menunjukkan sikap kooperatif dengan semua pihak (sesama guru, pejabat/pimpinan, bahkan dengan para siswa) karena guru belum merasa oke dengan dirinya sendiri. d. Masih terdapat guru di lingkungan sekolah bersama dengan jajarannya mempertunjukkan praktik korupsi. Misalnya dalam hal pengadaan buku pegangan setiap tahun.

Bagaimana guru fokus mendidik apabila dihadapkan pada realitas di atas? Bagaimanapun juga realitas di atas harus disikapi. Dengan belajar dari falsafah hidup petani dalam bertanam padi untuk menemukan sikap yang relevan. Mereka (petani) yakin bahwa bertanam padi bukan sekedar kegiatan jasmani (mencangkul, menyemai, menanam, menyiangi, mengairi, memupuk, memanen, dll.) melainkan juga kegiatan rohani (menciptakan suasana hati). Suasana Hati kita maupun suasana hati tetangga turut mempengaruhi hasil panen. Suasana hati yang baik selama bekerja di sawah akan menghasilkan panen yang baik, dan sebaliknya. Itu berarti kita perlu bijak-bijak menjaga suasana hati dan bertenggang rasa terhadap tetangga kita. Bertanam padi bukan urusan individu, melainkan komunal. Air dari irigasi sungai bukan hanya untuk satu petak sawah melainkan perlu dibagi untuk semua sawah. Kata kuncinya adalah paguyuban dan hubungan yang serasi. (Andar Ismail, 2000: 19)

Pendidik yaitu guru ibarat sebagai petani yang perlu menjaga suasana hati dan hubungan serasi dengan teman sejawat dan alam hidup yaitu para siswa yang diibaratkan padi. Padi (para siswa) perlu diperlakukan dengan hati-hati. Dalam hal ini guru harus mampu “mendapatkan kegembiraan” dalam pekerjaan utama yang ia lakukan yaitu fokus mendidik. Hal-hal yang mendukung pernyataan di atas yaitu menurut Plato ketika ditanya: “Cara apakah yang terbaik untuk hidup?” Dia menjawab: “Kehidupan harus dilakukan seperti bermain.” Dalam kitab injil dikatakan; “Hati yang bahagia akan mendapatkan pekerjaan terbaik.” Dalam agama Budha, diajarkan: “kita berjanji untuk membawa berita suka cita bagi seseorang pada pagi hari, kemudian menghapuskan kesedihan bagi seseorang pada siang hari, kita tahu bahwa kebahagiaan orang lain adalah juga kebahagiaan kita, dan kita berjanji untuk selalu mempraktekan kebahagiaan di kehidupan dalam melayani.”

Jadi untuk mendapatkan kepuasan dalam bekerja, guru harus sadar bahwa yang ia lakukan akan membahagiakan orang lain, baik sesama guru, karyawan, pimpinan, dan terutama para siswanya bahkan satu atau sejuta orang. Siapa saja akan mendapatkan kepuasan ketika berurusan dengan guru, lalu guru akan merekomendasikan nama baik sekolah, dan dengan demikian, bukan saja lembaga/ sekolah yang makin berkembang, tapi guru tersebut dapat berkata” I did it” , “ aku telah mengawalinya ” untuk fokus dalam mendidik.

Suatu alternatif bagaimana guru tetap fokus dalam mendidik apapun keadaan dan permasalahan yang dihadapinya, berikut ini adalah suatu hasil refleksi permenungan penulis atau boleh dikatakan sebagai suatu sharing yang mengalami menjadi guru dengan beberapa permasalahan di atas.

Pertama, menjaga suasana hati yaitu bila guru merasa oke dengan dirinya dan juga akan merasa oke dengan orang lain teutama dengan para siswanya dalam kontek mendidik sehingga dapat membahagiakan orang lain. Tugas guru dalam menjaga suasana hati para siswanya yaitu menghargai dan mencintai karakter para siswanya dengan apa adanya. Selain itu para siswa perlu dibaik-baikin. Para siswa yang diperlakukan baik secara terus-menerus akan menimbulkan suasana kondisif, termotivasi, dan terfokus dalam menyelami suatu pendidikan bersama gurunya.

Kedua, Dalam menjaga suasana hati guru perlu menemukan suatu relasi dengan para siswanya yang dilihat sebagai suatu kebutuhan (need) dan seni (art). Relasi yang merupakan kebutuhan melahirkan gambaran atau informasi kontinyu mengenai latar belakang (back ground) para siswanya. Sedangkan Relasi sebagai suatu seni melahirkan kepribadian dan keunikan guru untuk mempunyai intuisi yang bagus dalam menilai proses dan perkembangan kemampuan afektif, psikomotorik, dan kognitif para siswanya.

Ketiga, dalam menjaga suasana hati guru mampu menemukan jati dirinya dan juga jati diri para siswanya yang unik dan beragam sehingga mampu menemukan dan menanamkan konsep-konsep dasar pendidikan nilai dan kemampuan akademik secara kreatif dan inovatif.

Keempat, Penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang memahami dari proses belajar:

  • 10% dari apa yang dibaca (membaca)
  • 20% dari apa yang didengar (mendengar)
  • 30% dari apa yang dilihat (melihat)
  • 50% dari apa yang dilihat dan didengar
  • 70% dari apa y6ang dibicarakan dengan orang lain (diskusi)
  • 80% dari apa yang dipakai dan dan dilakukan dalam kehidupan nyata (aplikasi dan praktek)
  • 95% dari apa yang diajarkan kepada orang lain (mengajar)

Penelitian ini mengimplikasikan bahwa guru harus mencoba memberikan berbagai cara sehingga muridnya dapat belajar secara maksimal.

Kelima, guru perlu menyangkal dirinya, dengan kembali membangkitkan harapan akan pentingnya tugas luhur dengan semangat pengabdian, pengorbanan, dan kepahlawanan. Bahwa semua amal guru akan menerima ganjaran di akhirat dengan selalu berdoa. Semoga pemerintah atau lembaga manapun mulai memikirkan kesejahteraan guru, sesuai diamanatkan dalam Undang – undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 dengan salah satu sarana peningkatan mutu guru (bukan tujuan) dengan dijalankannya uji sertifikasi guru. Kalaupun uji sertifikasi guru belum mampu meningkatkan mutu atau kualitas guru, pasti akan dicarikan jalan lain untuk saran meningkatkan kualitas guru dar waktu ke waktu, yang jelas guru telah mengawalinya sendiri sejak dini dengan penuh kesadaran.

Jadi jelas bahwa dengan menjaga suasana hati, guru akan merasa oke dengan dirinya sendiri dan juga akan merasa oke dengan orang lain akan mendukung guru fokus dalam mendidik setidaknya dapat membahagiakan orang lain. Kolaborasi antara realitas masih banyak guru yang jauh dari yang diharapkan dengan falsafah hidup petani yaitu menjaga sauna hati akan tercipta guru yang tahan banting (handal). Amin.