Jumat, 23 Juni 2017
Home / Artikel / Kualitas Pelaksana Pendidikan Adalah Harga Mati

Kualitas Pelaksana Pendidikan Adalah Harga Mati

Dale Carnegie menulis buku “How to Stop Worrying and Living” dengan maksud hendak menunjukkan bahwa makna hidup kita terletak pada apa yang kita hasilkan. Caranya adalah giat melakukan apa-apa yang perlu untuk meraih cita-cita kita, maka kita tidak lagi menyia-nyiakan waktu dan tenaga untuk bercemas-cemas. Guru yang juga pegawai pada umumnya adalah sosok yang giat memperjuangkan agar selalu mengalami kenaikan baik pangkat/golongan, maupun jabatan. Tujuan yang diharapkan dari kenaikan ini adalah adanya perubahan gaji yang membawa peningkatan kesejahteraan. Dengan berbagai upaya untuk meraih kenaikan sampai-sampai ada guru yang menghalalkan segala cara.

Dalam hal ini masih ada satu hal yang masih disayangkan dari perjuangan ini, yaitu semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. Mereka (para guru) yang demikian belum memperhatikan kepentingan besama. Misalnya setelah layak dipromosikan untuk kenaikan, maka guru akan mempersiapkan seribu satu persiapan agar apabila tiba waktunya dinilainya, maka hasilnya sangat memuaskan. Mengajar dibikin bagus lengkap dengan alat peraga yang menyenangkan. Namun ketika usai penilaian atau setelah mendapat kenaikan pasca penilaian maka guru kembali mengajr secara tradisional (tidak semua guru demikian).

Sebaiknya bagaimana? Seperti teladan guru sejati yakni Yesus Kristus, Beliau juga menginginkan kenaikan. Yesus diangkat naik ke surga. Bedanya ialah kalau Yesus mengalami kenaikan bukan untuk kepentingan diri sendiri, mengalami peningkatan kesejahteraan atau kepentingan duniawi lainnya. Ia naik ke surga untuk kembali kepada jatidirnya yaitu sifat Ilahinya. Seperti istilah Jawa Ia adalah sangkan paraning dumadi. Semestinya guru juga kembali ke jati dirinya sebagai pendidik dan pengajar yang sejati, selain untuk kepenuhan diri juga perlu memikirkan kebutuhan nara didik baik kebutuhan kini dan menyiapkan pembekalan untuk memenuhi kebutuhan masa datang.

Boleh juga kita bercermin kepada perjuangan para pahlawan. Mereka (para pahlawan) yang berjuang secara kedaerahan mengalami kegagalan. Hingga timbulah para pahlawan pergerakan nasional yang meninggalkan sifat kedaerahan. Titik kulminasi pergerakan ini diperibngati tanggal 20 Mei sebagai hari Kebangkitan Nasional. Hasilnya sangat memuaskan karena cita-cita para pahlawan dapat terwujud yaitu kemerdekaan Indonesia.

Adakah sesuatu yang ditimbulkan dari perjuangan yang bersifat individu sehingga penjajahan muncul lagi? Ada, namun penjajah salah satunya adalah kecemasan dalam berbagai hal. Pertama masalah penerimaan murid baru (PMB) setiap tahunnya mengalami penurunan. Secara matematis mudah dilihat dari perbandingan antara jumlah yang lulus dengan jumlah siswa yang masuk, lebih besar yang lulus. Kedua masalah guru yang belum lulus uji kompetensi bahkan ada guru yang lemah yang perlu program pendampingan. Misalnya mencakup bidang pembentukan semangat dan sikap sebagai pendidik. Bidang penguasaan materi mengajar pada bidang studi bersangkutan, mengevaluasi belajar siswa, dan penelitian tindakan kelas. Hal ini menjawab suatu pernyataan bahwa masa depan persekolahan sangat tergantung dari kualitas para pelaksana pendidikan. Kualitas guru yang senada dituntut oleh Undang-Undang Guru dan Dosen yang merupakan tantangan bagi kita yang terjun dalam dunia pendidikan. Masalah ketiga adanya delima sekolah katolik terhadap pelayanan penampungan anak-anak yang kurang mampu. Bagaimana kita mau menampung anak yang tidak kuat membayar biaya sekolah sementara kita para pelaksana pendidikan memperoleh sesuap nasi diambil dari biaya sekolah yang dibayar peserta didik. Berbeda halnya dengan sekolah non swasta yaitu sekolah negeri, di mana para pelaksana pendidikan mendapat gaji dari pemerintah bukan dari biaya sekolah yang dibayar para siswa semata. Sekolah negeri berani menerima siswa secara gratis. Tak pelak beberapa siswa non pribumi sudah berani mencoba menyekolahkan anaknya di sekolah negeri karena masalah biaya dan kebutuhan hidup yang semakin pelik.

Apa yang kita perlukan sekarang? Seperti para pengamat politik, ilmuwan, budayawan, ahli pikir, ahli sejarah, dan sejenisnya selalu mempertajam pengamatan peristiwa dahulu, kini, dan yang akan datang. Sama dengan perjuangan yang tadinya dimulai secara individual hingga kebangkitan nasional. Secara mikro para pendahulu kita di lembaga sekolah bisa disebut sebagai civitas akademika, pensiunan, alumnus yang meninggalkan almamater. Kita sering berucap kepada siswa calon alumnus “ janganlah engkau melupakan almamatermu !” Lebih jauh penulis teringat masa lalu ketika menjadi mudika di paroki Klepu di daerah Sleman Yogyakarta. Kami (para mudika) mengadakan berbagai kegiatan. Sayuk rukun kami membuahkan suatu kegiatan yang bisa dikenang sampai kini, walaupun waktu itu sulit mengumpulkan biaya. Kegiatan persaudaran dalam aneka lomba dan pentas seni. Kegiatan itu dinamai RULI (Rukun Libur), Anjangsana, dan perayaan hari – hari besar agama katolik. Kini kenangan itu dibawa untuk tidak dilupakan begitu saja. Ketika masing – masing mudika telah sama- sama merantau tidak tahu rimbanya, suatu ketika ada generasi mudika di paroki Klepu menyodorkan permohonan donatur, wah… dengan senang hati kami mudika dahulu menjadi donatur hingga suksesnya acara yang dicita-citakan, misalnya kegiatan perasaudaran, perayaan hari besar bahkan pembangunan gereja. Lalu apa hubungannya dengan sekolah? Sekolah juga memiliki alumnus sebagai penyumbang dana, pemberi dana bantuan untuk siswa tidak mampu, bahkan ada yang bersedia menjadi orang tua asuh. Pernah ada pertanyaan orang tua? Buat apa sih kegiatan perpisahan? Buat apa sih ikut perlombaan kalau pelajarannya ketinggalan? Masih banyak lagi pertanyaan sejenis. Guru pun menjawab perlunya kegiatan – kegiatan itu bersifat mendidik dari nilai hidup sampai pada kepedulian kepada almamater. Kelihatannya sederhana namun bermakna untuk tidak melupakan almamater, hanya saja kini kita belum merekrut sepenuhnya para alumnus sekolah. Ada lho lulusan sekolah kita yang telah menjadi dokter, direktur, pengusaha, bahkan pegawai di luar negeri. Hanya informasi dan ajakan kita tidak ada yang sampai menyentuh kepada para alumnus itu untuk berpartisipasi atau peduli dengan permasalahan kita. Harapan ke depan ada generasi sambung – menyambung yang tidak terputuskan dengan “Kualitas Para Pelaksana Pendidikan Adalah Harga Mati” sebagai syaratnya. Hal ini dibuktikan oleh para siswa yang bersekolah di suatu tempat misalnya di SD Tarsisius 1 adalah anak dari orang tua alumnus SD Tarsisius 1. Ada beberapa siswa yang tinggal bersama kakek dan neneknya yang juga alumnus dari sekolah itu.

Segala bentuk permasalahan akan bisa terkikis oleh sebuah kualitas. Karena dengan berkualitas apapun akan mudah dibangun baik jaringan hubungan, promosi sekolah, pencarian donatur, bahkan orang tua asuhpun akan percaya bila sekolah berkualitas. Apa yang mau dipromosikan dari sekolah apabila menyimpan segudang tenaga guru pelaksanan pendidikan yang berkualitas hanya sesaat (waktu dinilai untuk kenaikan)? Mementingkan diri sendiri? Kurang peduli dengan permasalahan bersama? Seperti mengutip pertanyaan Pastor Markus Wanandi, SJ dalam sebuah pertemuan di aula SD Damai “ Apa konstribusi anda terhadap siswa, sekolah, unit, antar unit, dan bahkan terhadap Yayasan Bunda Hati Kudus? Pendek kata “ Apa yang kita hasilkan?”