Selasa, 22 Agustus 2017
Home / Artikel / Mengatasi Kegelisahan dan Kekhawatiran Menghadapi UASBN
Ruang Kelas SMA Tarsisius 1

Mengatasi Kegelisahan dan Kekhawatiran Menghadapi UASBN

Ada dua tugas utama guru yaitu pengajar dan pendidik. Tugas guru sebagai pengajar yaitu menstranfer ilmu kepada peserta didik. Tugas kedua sebagai pendidik yaitu mempersiapkan peserta didik memiliki nilai-nilai hidup misalnya membentuk karakter atau kepribadian siswa yang trampil, beriman, bertaqwa, berbudi, mandiri, dan percaya diri. Apabila guru mampu menjalankan kedua tugas itu secara baik dan benar, maka guru tersebut mampu mempersiapkan para siswanya menghadapi perang di penghujung sekolahnya yaitu Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN).

Suatu kenyataan bahwa guru lupa dengan tugas kedua yaitu sebagai pendidik. Setidaknya guru sangat dominan sekali sebagai pengajar saja, sehingga memunculkan sikap siswa merasa takut, cemas atau khawatir dalam melaksanakan UASBN. Terlebih lagi para siswa yang mengalami fobia matematika. Ketakutan, kecemasan, atau kekhawatiran memang ada. Kita pun cemas dan malu sebagai guru apabila ada siswanya yang gagal menghadapi UASBN. Perlu digaris bawahi bahwa perasaan – perasaan itu sendiri sebenarnya lebih menakutkan dari pada kenyataan atau keadaan yang dihadapi. Tidak salah kita takut, cemas, khawatir, tetapi kita harus mengatasinya. Kalau tidak maka hidup kita sebagai guru akan menemukan hambatan.

Strategi untuk menghadapi UASBN pun telah dipersiapkan dengan seksama oleh lembaga sekolah. Diantaranya dengan mengadakan tambahan jam pelajaran dan diadakannya uji coba atau try out kurang lebih empat kali. Sedangkan strategi agar siswanya dapat lulus semua juga dilakukan dengan memberi otonomi atau kebebasan sekolah untuk menentukan standar kelulusan ( SKL ). Kini telah berlangsung try out. Hasil try out agak melegakan karena beberapa siswa yang lemah telah diketahui dengan pasti, sehingga dapat dilakukan pendampingan dan pendidikan secara dini. Strategi yang perlu dilakukan ialah membuat catatan guru untuk siswa tersebut. Beri pelayanan, cara pendampingan, dan penanganan secara khusus. Namun bukan berarti meninggalkan siswa yang yang tidak lemah apalagi mengkotak-kotakan siswa, karena hal itu justru membuat para siswa semakin tidak percaya diri.

Banyak hal yang perlu dilakukan oleh para guru setelah mengetahui beberapa siswa yang lemah, gelisah, dan khawatir. Setidaknya perlakuan kepada para siswa berikut ini perlu diperhatikan untuk mengatasi berbagai kemungkinan perasaan yang merugikan. Ibarat kalah sebelum berperang (UASBN).

Pertama, berikan masukan-masukan positif kepada para siswa. Berarti hindari masukan negatif laksana memasukan sampah ke dalam pikiran anak. Misalnya sadar atau tidak kita pernah berkata kepada para siswa yang lemah sebagai berikut:

  • “Begitu saja tidak bisa!”
  • “ Awas lho, … sebentar lagi UASBN !”
  • “Wah, bagaimana ini, kok hasil try outmu jelek, di bawah SKL lagi !”
  • “Jangan-jangan kamu tidak lulus.”
  • “Saya khawatir, kamu gagal dalam UASBN nanti!”

Dan seterusnya, kata – kata negatif lainnya mungkin lebih banyak lagi. Menurut Tjiptadinata Effendi, 2002: 101 dikatakan bahwa mengubah cara berpikir juga merupakan persyaratan utama, bila Anda ingin mengubah hidup Anda. Karena cara berpikir, akan menentukan hidup Anda. “ You are what you think”. Anda akan menjadi seperti apa yang Anda pikirkan. Pikiran negatif akan menghadirkan hidup negatif. Sebaliknya pikiran positif akan menjanjikan hidup yang baik. Pikiran seperti benih, apa pun yang Anda pikirkan, berarti Anda telah menabur benih-benih yang akan tumbuh. Bila Anda menaburkan benih yang baik, yaitu pikiran yang selalu positif, maka akan menuai buahnya. Sehingga ungkapan yang diberikan kepada siswa seharusnya:

  • “Kamu pasti bisa!”
  • “Saya yakin kamu pasti dapat mengubah hasil try out lebih baik lagi,”
  • “Kamu pasti berhasil!”
  • “Kamu pasti lulus!”

Kedua, jadikan para siswa yang lemah sebagai guru kita. Kedengarannya aneh, tetapi coba pahami dengan cerita yang disampaikan oleh Markus Marlon (Hati Baru, Agustus 2005 : 32). Orang Tibet bertanya, “ Mengapa Guru begitu tenggang rasa dengan tukang masak yang tak berguna itu ? Ia kelihatannya Cuma menimbulkan masalah alih-alih membantu Guru. Mengapa Guru tidak pulangkan saja? Kami akan dengan senang hati melayani Guru,” Sang Guru tersenyum dan menjawab, “Ah kalian tidak mengerti. Ia bukan pelayanku. Ia guruku.” Orang-orang Tibet kaget dan memohon penjelasan, “Kenapa bisa begitu?” Sang Guru menjelaskan, “ Kalian lihat perangaiannya yang rewel dan tak menyenangkan itu telah mengajariku untuk bersikap sabar dan bertenggang rasa setiap hari. Karena itulah aku menghargainya.”Dengan demikian kita tidak henti-hentinya menghargai siswa yang lemah, pasti kita akan fokus dan merasa oke dengan diri kita sendiri untuk menghargainya seperti Sang Guru di atas. Pada gilirannya siswa yang lemah dan biasa-biasa saja akan menjadi siswa yang luar biasa dengan keberhasilannya.

Ketiga, didiklah siswa dengan doa. Apabila kita telah menjalankan tugas sebagai guru dengan benar dan memperhatikan siswa juga telah belajar dengan baik, maka ajaklah anak untuk berdoa. Berdoa, bersyukur, berterima kasih, dan memohon campur tangan Tuhan untuk keberhasilan menghadapi UASBN. Keberhasilan bersama siswa dan guru.

Akhirnya penulis berharap semoga alternatif mengatasi kegelisahan dan kekhawatiran menghadapi UASBN (yang sebentar lagi akan dilaksanakan) dapat memperteguh persiapan para pembaca terutama guru, siswa, dan orang tua murid. Semua persiapan ini dimulai dari dalam pikiran dan hati kita sebagai guru untuk menciptakan rasa percaya diri pada siswa yang juga termasuk salah satu tugas guru sebagai pendidik, sebelum terlambat.