Live In

Pada Senin, 19 Januari 2026, siswa-siswi kelas XI SMA Tarsisius 1 memulai perjalanan live in mereka dengan berkumpul pukul 06.00 pagi di Stasiun Pasar Senen. Setelah pembagian tiket dan pengarahan singkat dari guru pendamping, rombongan berangkat pukul 08.55 menuju Yogyakarta dengan penuh antusias. Sepanjang perjalanan kereta, suasana dipenuhi canda, foto bersama, dan cerita tentang bayangan kehidupan desa yang akan mereka jalani. Setibanya di Yogyakarta, perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju Kecamatan Dukun, Magelang, wilayah yang berada di lereng Gunung Merapi. Malam hari mereka tiba dan disambut hangat oleh panitia serta warga di gereja setempat melalui doa bersama dan penyambutan sederhana yang sarat makna.

Setelah acara penerimaan, para siswa dibagi ke rumah orang tua asuh masing-masing. Inilah momen pertama mereka benar-benar merasakan kehidupan desa. Rumah-rumah sederhana dengan suasana hangat keluarga menyambut mereka. Malam itu sebagian siswa masih canggung, namun keramahan keluarga asuh membuat suasana cepat mencair. Percakapan ringan sebelum tidur menjadi awal dari hubungan yang semakin dekat di hari-hari berikutnya.

Hari-hari berikutnya diisi dengan aktivitas khas pedesaan. Setiap pagi mereka bangun lebih awal, menghirup udara segar yang berbeda dari Jakarta. Mereka membantu di sawah dan kebun: menanam padi, memanen cabai, menjemur gabah, hingga membersihkan kandang ternak. Tangan yang biasanya memegang gawai kini memegang cangkul dan sabit. Banyak yang mengaku baru pertama kali turun langsung ke sawah dan merasakan lumpur di kaki. Meski lelah, ada kebanggaan tersendiri saat melihat hasil kerja mereka.

Selain bekerja, siswa juga belajar mengolah hasil bumi menjadi makanan tradisional. Mereka membuat combro, misro, bakwan, dan berbagai camilan sederhana dari singkong serta sayuran setempat. Proses memasak bersama keluarga asuh menjadi pengalaman hangat yang tak terlupakan. Tawa terdengar ketika adonan terlalu encer atau gorengan sedikit gosong, namun justru dari situlah tercipta kebersamaan.

Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah jelajah alam. Para siswa menyusuri sungai, bermain di air, dan melewati jalur berlumpur dengan berbagai tantangan. Mereka harus bekerja sama agar semua anggota kelompok dapat melewati rintangan dengan selamat. Ada yang terpeleset, sandal hanyut, bahkan pakaian penuh lumpur, namun semuanya berubah menjadi cerita lucu yang dikenang bersama. Kegiatan ini menumbuhkan solidaritas dan rasa saling peduli.

Tak kalah menarik, siswa juga mempelajari budaya lokal melalui latihan tarian tradisional seperti Soreng, Grasak, dan Kerincing Manis. Mereka berlatih dengan iringan gamelan yang khas dan penuh semangat. Meski awalnya kesulitan mengikuti gerakan yang energik, perlahan mereka mampu menampilkan tarian dengan kompak. Puncaknya adalah malam pentas seni, di mana setiap kelompok menampilkan hasil latihan mereka di hadapan warga desa. Malam itu dipenuhi tepuk tangan, rasa bangga, dan kebahagiaan.

Di sela-sela kegiatan, momen refleksi malam menjadi waktu yang mendalam. Siswa berbagi pengalaman, tantangan, dan pelajaran yang mereka peroleh. Banyak yang menyadari bahwa kehidupan sederhana di desa justru mengajarkan rasa syukur, kerja keras, dan arti kebersamaan yang sesungguhnya. Tanpa ketergantungan pada teknologi, mereka belajar hadir secara utuh satu sama lain.

Pengalaman tinggal bersama keluarga asuh juga membuka mata mereka tentang nilai kekeluargaan dan gotong royong. Mereka melihat bagaimana warga saling membantu tanpa pamrih, berbagi hasil panen, dan menjaga hubungan yang harmonis. Nilai-nilai ini menjadi pelajaran hidup yang tidak selalu mereka temukan dalam kehidupan kota yang serba cepat.

Pada hari terakhir, suasana haru terasa saat mereka berpamitan dengan orang tua asuh. Ada pelukan, air mata, dan janji untuk suatu hari kembali berkunjung. Perpisahan itu membuktikan bahwa dalam waktu singkat telah terjalin ikatan yang tulus. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan edukatif ke Candi Prambanan, Universitas Sanata Dharma, Museum Vredeburg, dan Malioboro sebelum kembali ke Jakarta.

Live in di Desa Dukun, Magelang, bukan sekadar program sekolah, melainkan perjalanan pembelajaran hidup. Siswa kelas XI SMA Tarsisius 1 pulang dengan hati yang lebih matang, pikiran yang lebih terbuka, serta kenangan indah yang akan terus mereka bawa hingga dewasa nanti.

https://www.instagram.com/p/DT5bDjKCY92