Dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional tahun 2026, telah dilaksanakan kegiatan talk show bertema “Remaja Sehat, Bangsa Kuat” bersama Ade Rai pada hari Rabu, 29 April 2026, pukul 10.00–12.00 WIB di Hall Bulutangkis SMA Tarsisius 1. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh siswa-siswi SMP dan SMA Tarsisius 1 dengan antusiasme yang tinggi.
Acara dipandu oleh MC Aurellia Gabrielle Lauw (XI D) dan Marco Moreno (XI A) yang membawakan suasana dengan komunikatif dan interaktif. Dalam pelaksanaannya, terdapat sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya secara langsung kepada narasumber. Selain itu, suasana semakin hangat dan menyenangkan dalam sesi foto bersama yang berlangsung meriah, sebelum akhirnya kegiatan ditutup dengan ramah tamah.



Dalam penyampaian materinya, Ade Rai menekankan bahwa kesehatan bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari perilaku yang dibangun secara konsisten. Ia mengawali dengan menjelaskan fondasi utama kehidupan sehat, yaitu disiplin, pemahaman, dan edukasi. Proses belajar yang benar menurutnya dimulai dari mendengar, memahami, hingga menjadikannya sebagai kebenaran baru dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, dijelaskan tentang perjalanan manusia dari kondisi “duka, sakit, dan salah paham” menuju “sehat, sejahtera, dan bahagia” melalui proses kesadaran dan pembelajaran. Salah satu poin penting yang disoroti adalah alasan mengapa manusia mudah sakit, yang sebagian besar (sekitar 90%) dipengaruhi oleh perilaku, seperti konsumsi karbohidrat berlebihan, makanan olahan (ultra processed food), kurangnya asupan protein, jarang bergerak, tidak melakukan latihan beban, pola makan yang terlalu panjang, kurang tidur, stres, hingga kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.



Ade Rai kemudian memaparkan mindset seorang Health Champion yang menjadi dasar perubahan hidup sehat. Mindset tersebut meliputi: hidup dengan kecintaan (passion) terhadap apa yang dilakukan, kita tidak bisa memberi kalau tidak memiliki tidak mencari alasan (no excuse), fokus pada hal-hal yang positif, memiliki niat tanpa pamrih, menghargai keagungan diri sendiri, serta mampu bersahabat dengan kesunyian sebagai ruang refleksi. Ia juga menekankan bahwa seseorang tidak bisa memberi jika tidak memiliki, sehingga penting untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Dalam aspek praktis, disampaikan pula sumber racun (toxicities) yang dapat memengaruhi kesehatan, antara lain makanan olahan, polusi lingkungan, paparan zat berbahaya, kebiasaan buruk seperti merokok dan alkohol, hingga tekanan emosional dan psikologis. Oleh karena itu, kesadaran akan lingkungan dan gaya hidup menjadi hal yang sangat penting.
Selanjutnya, Ade Rai memberikan proposal pola perilaku sehat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu: melakukan latihan beban sebagai prioritas, mengonsumsi protein yang cukup, mengontrol asupan karbohidrat, tidak takut terhadap lemak alami, melakukan latihan saat perut kosong, menjalankan puasa, serta mengatur napas untuk menjaga kesehatan mental. Ia menegaskan bahwa otot memiliki peran penting dalam tubuh, bukan hanya untuk kekuatan, tetapi juga sebagai “penyerap gula” alami yang membantu mengontrol kadar gula darah, meningkatkan metabolisme, serta menjaga keseimbangan hormon.
Selain kesehatan fisik, Ade Rai juga menyoroti pentingnya kesehatan mental melalui sikap menerima, tidak menghakimi, serta membangun rasa syukur, pengampunan, dan keikhlasan. Ia menjelaskan bahwa kesehatan sejati merupakan hasil dari keseimbangan antara cara berpikir, kondisi hidup, dan pilihan tindakan sehari-hari.
Ade juga menceritakan pola makan, dan berbagai olahraga yang ia tekuni sejak remaja sampai akhirnya dia menekuni latihan beban sampai di usia ke 57 tahun ini. Disampaikan pula beberapa contoh yang menarik, seperti ini salah satunya, Tubuh kita bisa diibaratkan seperti mobil. Setiap hari, kita “mengisi bensin” lewat makanan. Tapi seperti tangki mobil, tubuh juga punya batas daya tampung. Kalau terus diisi tanpa pernah dipakai, lama-lama akan penuh—bahkan bisa berdampak buruk. Agar “bensin” itu terpakai dengan baik, ada dua cara sederhana. Pertama, habiskan bensin dengan terus bergerak. Mobil yang sering dipakai tidak akan menumpuk bahan bakar. Begitu juga tubuh kita—perlu aktivitas seperti berjalan, berolahraga, atau sekadar tidak terlalu lama diam. Gerak adalah cara alami tubuh membakar energi. Kedua, “perbesar mesin” kita. Dalam istilah tubuh, ini berarti meningkatkan massa otot melalui latihan kekuatan. Semakin besar “mesin”, semakin banyak energi yang bisa dibakar, bahkan saat kita sedang istirahat. Ketika dua hal ini berjalan seimbang—aktif bergerak dan memperkuat tubuh—maka energi yang masuk dan keluar menjadi selaras. Tubuh pun tetap sehat, bertenaga, dan tidak kelebihan “bensin”.

Dalam sesi bersama para guru, muncul pertanyaan yang jujur dan sangat relevan: di usia “kepala lima”, kadang muncul rasa segan untuk ikut gym karena merasa sudah tidak seumuran dengan yang muda.
Jawabannya justru menyentuh sisi yang lebih dalam. Biasanya, semakin bertambah usia, seseorang semakin sadar untuk mendekatkan diri kepada Tuhan—meningkatkan iman. Itu sesuatu yang baik dan wajar. Namun, di saat yang sama, ada hal lain yang juga perlu didekatkan: imun—daya tahan tubuh kita. Jika iman menguatkan jiwa, maka imun menguatkan raga. Dan salah satu cara terbaik menjaga imun adalah dengan bergerak, termasuk berolahraga atau pergi ke gym. Jadi bukan soal malu atau segan. Justru di usia ini, semangat harus ditingkatkan. Karena merawat tubuh bukan hanya soal penampilan, tetapi tanggung jawab untuk menjaga kesehatan agar tetap kuat menjalani hidup dan terus berkarya.
Singkatnya:
kalau iman didekatkan kepada Tuhan, maka imun didekatkan dengan olahraga.
Keduanya berjalan bersama—menjadikan hidup lebih seimbang, kuat lahir dan batin.
Melalui kegiatan talk show ini, para siswa dan guru serta karyawan mendapatkan wawasan yang luas dan mendalam mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak usia remaja. Diharapkan, kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran bahwa menjadi sehat adalah tanggung jawab pribadi yang dimulai dari kebiasaan kecil, sehingga dapat menciptakan generasi muda yang kuat, tangguh, dan siap membangun bangsa di masa depan.


https://www.instagram.com/osis_tarsisius1/reel/DXv5o_8OB0T

