Pada hari ini, seluruh siswa kelas X mengikuti kegiatan seminar edukatif yang diselenggarakan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan peserta didik, baik dalam aspek pembentukan karakter, etika, maupun kesadaran terhadap tantangan dunia digital yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.
Seminar dilaksanakan dalam dua sesi dengan menghadirkan narasumber dari Universitas Tarumanagara dan Universitas Bina Nusantara (Binus).
Sesi Pertama: Akuntansi, Budi Pekerti, dan Pencegahan Perundungan
Sesi pertama dibawakan oleh dua dosen Program Studi Akuntansi Universitas Tarumanagara, yaitu Bapak Amin Wijoyo dan Bapak Ferry Adang, alumni SMA Tarsisius 1. Kegiatan ini juga didampingi oleh dua mahasiswa Akuntansi Untar, Saudara Brayden dan Saudara Richard Valentino Vladimir.
Dalam pemaparannya, para narasumber mengajak siswa untuk melihat akuntansi dari sudut pandang yang lebih luas. Akuntansi tidak hanya berbicara tentang angka dan perhitungan, tetapi juga mengenai nilai, tanggung jawab, serta kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Melalui tema “Accounting is Not Just Numbers”, siswa diajak memahami bahwa akuntansi dapat menjadi bahasa moral yang mencerminkan karakter seseorang.
Materi yang disampaikan menekankan pentingnya membangun budaya organisasi yang disiplin. Disiplin yang dimaksud bukanlah sekadar ketaatan terhadap aturan, melainkan disiplin positif yang tumbuh dari kesadaran diri untuk melakukan hal yang benar. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja di masa depan.
Selain itu, para peserta juga diajak merefleksikan pentingnya budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Sikap hormat, tanggung jawab, kejujuran, serta kepedulian terhadap sesama merupakan nilai-nilai yang perlu terus ditanamkan sejak usia sekolah.
Topik lain yang mendapat perhatian khusus adalah perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Narasumber mengingatkan bahwa setiap siswa memiliki peran dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Melalui diskusi dan contoh-contoh kasus yang dekat dengan kehidupan remaja, siswa diajak memahami dampak negatif perundungan serta pentingnya membangun budaya saling menghormati.
Dalam sesi praktik, siswa juga diperkenalkan pada cara membedah dan memahami buku kas sederhana. Kegiatan ini membantu peserta melihat bagaimana pengelolaan keuangan yang baik dapat dilakukan sejak dini. Akuntansi dipahami bukan hanya sebagai keterampilan menghitung, tetapi juga sebagai panduan etika dan budi pekerti dalam mengelola keuangan sehari-hari secara bertanggung jawab.


Sesi Kedua: Dampak Game Online bagi Generasi Z
Pada sesi kedua, seminar menghadirkan narasumber dari Universitas Bina Nusantara (Binus) yang membahas fenomena game online dan dampaknya terhadap Generasi Z.
Materi diawali dengan pembahasan mengenai gaming disorder atau gangguan kecanduan bermain gim. Para siswa diajak mengenali berbagai tanda adiksi, seperti menghabiskan waktu bermain secara berlebihan, mengabaikan tugas sekolah, mengalami perubahan emosi yang signifikan, menghindari interaksi sosial, hingga munculnya berbagai keluhan fisik akibat pola bermain yang tidak sehat.
Narasumber juga menjelaskan bahwa kecanduan game dapat berdampak pada kesehatan mental. Beberapa dampak yang perlu diwaspadai antara lain meningkatnya impulsivitas dan rasa frustrasi, kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial, terganggunya pola tidur, menurunnya konsentrasi belajar, serta berkurangnya rasa percaya diri dan harga diri.
Sebagai langkah pencegahan, siswa diberikan berbagai strategi untuk menjaga keseimbangan dalam penggunaan teknologi dan permainan digital. Di antaranya adalah mengatur batas waktu bermain, menyeimbangkan aktivitas sehari-hari dengan kegiatan lain yang produktif, memprioritaskan tanggung jawab sebagai pelajar, serta memperbanyak interaksi sosial secara langsung dengan keluarga dan teman. Seminar dibawakan oleh Sdr. Lulu Nadya Hakim, S.Psi., M.Psi.
Melalui seminar ini, diharapkan siswa kelas X semakin memahami pentingnya membangun karakter yang baik, mengembangkan sikap disiplin dan bertanggung jawab, serta mampu menggunakan teknologi secara bijak. Kegiatan ini menjadi bekal berharga bagi peserta didik dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan akademik maupun sosial di era digital.


